Minggu, 17 November 2019
Sumpah Pemuda awal Gerakan Politi
Sumpah pemuda 1928 merupakan fondasi gerakan Indonesia berpolitik terutama perjuangan ke arah Parlemen. Salah satu perjuangan yang tersahuti Belanda yakni dengan terbentuknya Indische Partij. Uraikan Indische Partij hubungannya dengan adanya Sumpah Pemuda? Silahkan komentari ya!!!!
Minggu, 20 Oktober 2019
Sejarah Pergerakan National Indonesia (Khusus Mata Kuliah 2019)
Gerakan Merah Putih Sigi-Dolo
Pada bulan Desember 1945, Datupamusu bersama-sama Haji Yoto Daeng Pawindu dan kawan-kawan, resmi membentuk Gerakan Merah Putih Sigi Dolo yang berkedudukan di Kaleke sebagai pusat gerakan. Kegiatan-kegiatan Gerakan Merah Putih ini antara lain: (1) mengadakan rapat umum dan rapat rahasia guna menggembleng kekuatan massa dalam menghadapi dan menggagalkan pemerintahan NICA; (2) mengadakan kontak dengan gerakan-gerakan penuntut kemerdekaan di Gorontalo dan Poso; (3) mengadakan kontak dengan Laskar Kris Muda Mandar; (4) mengirim utusan untuk memperoleh senjata dan petunjuk-petunjuk serta informasi tentang situasi di Jawa (pusat).
Selain Datupamusu dan Haji Yoto Daeng Pawindu, salah seorang tokoh utama dalam Lasykar Merah Putih Sigi Dolo adalah M.Djaruddin Abdullah.Ia menduduki jabatan sebagai Sekretaris Laskar Merah Putih Sigi Dolo. Ia lahir di Kampung Baru, Palu pada 10 Juni 1910. Ia menyelesaikan pendidikan Sekolah Gubernemen lima tahun pada tahun 1924 dan Sekolah Pendidikan Guru B.V.S di Palu tahun 1926. Kemudian selesai mengikuti kursus Bahasa Belanda, P.H.I.S. pada tahun 1929.
Sejak tahun 1930 hingga 1938, ia bekerja sebagai juru tulis pada kantor pemerintahan Sigi Biromaru dan Sigi Dolo. Kemudian ia dimutasi sebagai Manteri Belasting pada kantor H.P.B Palu. Semenjak tahun 1940 hingga tahun 1946 ia bertugas sebagai Juru Tulis Kepala pada kantor Landschap Sigi Dolo di Biromaru. Pada tahun 1946, akibat aktivitas dalam Gerakan Merah Putih ia dipecat untuk sementera dalam pekerjaannya karena di tuduh menghasut rakyat untuk menentang pemerintahan (Belanda) yang sah.
Salah satu aktivitas gerakan Merah Putih Sigi Dolo dalam melawan pemerintahan NICA, yakni merobohkan Jembatan Sibonu jurusan Kaleke dekat induk markas Gerakan Merah Putih, sehingga mobil patroli polisi masuk jurang, Olehnya itu dilakukan penangkapan terhadap anggota-anggota gerakan merah putih. Berbagai aktivitas gerakan Merah Putih yang dianggap menghasut rakyat untuk melawan pemerintah, menyebabkan pemerintah NICA melakukan penangkapan terhadap tokoh-tokoh Laskar Merah Putih Sigi Dolo. Salah satunya, pada hari Kamis tanggal 31 Januari 1946 dilakukan penangkapan di pasar Kaleke terhadap tokoh Merah Putih, yakni Haji Joto Daeng Pawindu DS sebagai pucuk pimpinan perjuangan rakyat Sigidolo.
Selain itu, ditangkap pula rekan-rekannya yang lain Haji Lasingka dan Lakacinda. Dalam waktu yang sama penangkapan berlaku atas diri Daeng Pawara Lahusaeni, pimpinan merah putih di Dolo. Selanjutnya polisi NICA terus ke Bora dan menangkap Taleb Lacinala, pimpinan Merah Putih di Bora kemudian di pasar Biromaru Polisi NICA menangkap M.Djaruddin Abdullah, dan akhirnya singgah di Palu menangkap Waluntina sebagai pimpinan merah putih di Palu. Para tangkapan dibawa dan dimasukan sel tahanan di markas Polisi NICA.Mereka dituduh mengadakan rapat gelap di Sidera pada malam tanggal 31 Desember 1945 merencanakan untuk mengadakan perlawanan terhadap kekuasaan yang ada.
Atas kejadian ini maka Lolontomene Lamakarate, dan kawan- kawan pemimpin kelasykaran Merah Putih Sigidolo segera bertindak mengadakan protes atas penangkapan itu.Ia dan teman-temannya sudah mengeluarkan perintah mengerahkan tenaga bersenjata ke Palu mengambil para tahanan. Seluruh pimpinan Lasykar Merah Putih dari Kaleke, Pesaku, Dolo dan Biromaru semua anggotanya disiapkan akan diberangkatkan ke Palu pada tanggal 10 Pebruari 1946 pagi.
Lasyakar Merah Putih berangkat melalui Dolo.Anggota Lasykar dari Kaleke dan Pesaku harus menyeberang di Tulo lalu ke Dolo dimana anggota di Dolo sudah siap menunggu. Telepon di kantor pemerintah dikuasai supaya hubungan Pemerintah Dolo dan Palu putus. Pasukan diberangkatkan pada jam 8 pagi dan pada pertigaan jalan Palu-Biromaru dan Dolo menunggu anggota pasukan Biromaru yang kesemuanya akan bergabung menuju Palu. Jalil Jamal diberangkatkan lebih dahulu ke Palu dengan berkuda mengumpul dan menyiapkan anggota-anggota Merah Putih di Palu harus bersedia dan berkumpul di rumahnya Bapak Jamal di pinggir Sungai Palu di kampung Ujuna.
Untuk menghubungi Tawaeli yang juga sudah disiapkan lebih dahulu diutus dua orang penghubung saudara Dg.Malaja Lamakampali dan Ain Lahusaeni berangkat dengan kuda supaya mereka segera bergerak maju menuju Palu dalam waktu yang sama dengan Sigidolo. Sebelum berangkat meninggalkan pertigaan jalan ini ke Palu lebih dahulu Mene Lamakarate memerintahkan semua anggota mengambil air sembahyang di tepi sungai palu baharu kembali memasuki barisan masing-masing. Diatur sedemikian itu mengingat adanya kemungkinan yang sewajarnya terjadi apabila kedua belah pihak dalam keadaan sama-sama kera, sehinga kematian kita adalah bersih dan diridhoi tuhan.Sesudah semua anggota disiapkan untuk berangkat, maka sebelum itu sebagai ikrar dengan penuh semangat menyanyikan lagu Indonesia raya. Lalu bergerak maju dan sepanjang jalan menyanyikan lagu-lagu perjuangan yang membakar semangat seperti mars bambu runcing, dari Sabang sampai Merauke dan lain-lain, pasukan masuk Kota Palu tepat jam 10 pagi.
Pasukan dari Tawaeli dalam waktu yang sama telah berada di Talise menunggu perintah selanjutnya. Para anggota dari Palu sudah diatur untuk berpos di belakang markas polisi di Besusu, dalam pengawasan Jalil Dj. Dilaporkan dari Tawaeli tersedia 500 anggota di bawah pimpinan R.U Jotolemba, Yondi Maranua dan Said Ali Sahibu. Setibanya di Tatura pasukan merah putih Sigi Dolo dijemput oleh anggota pemerintah di Ibukota L.N Kansil selaku wakil H.P.B dan Caco Ijasa mengajak pimpinan Merah Putih Lolontomene Lamakarate untuk berunding dengan HPB Palu L.Barrau. Permintaan diterima baik oleh Lolontomene Lamakarate dengan bersyarat, kemudian diadakan perundingan di rumah kediaman HPB Palu, L. Barrau di mana semua raja-raja juga berkumpul di tempat itu. Hasil yang dicapai dalam perundingan, para tahanan segera dikeluarkan dan dikembalikan ke tempat masing-masing pada keesokan harinya.
Sumber:
Haliadi-Sadi, dkk., Pahlawan daerah Sulawesi Tengah, Yogyakarta: Q-Media, 2016, hlm. 103-106.
Petunjuk:
1. Silahkan baca tuntas !!!
2. Berikan komentar sebanyak tiga paragraph, yang berisi tentang: paragraf1, Kesimpulan bacaan, Paragraf2, Hubungkan dengan teori variabel teori “transendental keilahian dan imanen cultural,” dan paragraf3, kesimpulanmu.
3. Komentarnya, setiap paragraf harus lima kalimat ke-atas tidak boleh hanya lima kalimat ke bawah.
Silahkan berkomentar !!!!!!!
Jumat, 12 April 2019
Senin, 03 Desember 2018
Kamis, 08 November 2018
Rabu, 24 Oktober 2018
SEJARAH SEBAGAI KEKUATAN
Materi Kuliah Pasca Gempa Palu Pengantar Ilmu Sejarah:
SEJARAH SEBAGAI KEKUATAN
Oleh:
Haliadi-Sadi, Ph.D.
Ekonomi Sebagai Kekuatan Sejarah
Sejarah dunia dapat kita belajar bahwa terciptanya Jalan Sutera dari Tiongkok ke Eropa ialah karena kepentingan ekonomi. Eksplorasi Eropa ke Dunia Timur sebagian besar juga karena alasan ekonomi. Kedatangan orang-orang Eropa di Amerika Serikat bagian Selatan, perdagangan budak, dan kedatangan para pengejar “American Dream” karena alasan ini pula. Alasan ekonomilah Trunojoyo menyerang Mataram; Madura selalu bersaing dengan Jawa; dan karena blokade Belanda telah menghentikan arus ekonomi dari Jawa ke Madura, terpaksalah sebagian elit politik Madura menerima pembentukan Negara Madura sesudah Proklamasi 1945. Perkebunan di Sumatera yang memproduksi karet, kelapa sawit, tembakau, dan lain-lain. Dan pertambangan minyak tanah, batubara, dan timah terutama karena kekuatan ekonomi negara-negara Barat yang ingin memperluas modalnya. Demikian pula pembukaan perkebunan dan tanah-tanah partikelir di Jawa. Gerakan koperasi di Indonesia yang dikembangkan sejak zaman Belanda dengan harapan akan menjadi alat dari ekonomi Barat. Seperti diketahui dalam sebuah sistem ekonomi dualistis yang membagi masyarakat menjadi dua, yaitu sektor modern yang rasional dan sektor tradisional yang nonrasional, dua sektor itu bersaing secara tak seimbang. Dengan kemerdekaan keadaan ini tifak banyak berubah. Gerakan koperasi ditangani secara lebih sungguh-sungguh. Oleh pemerintahan, koperasi dinyatakan sebagai saka guru atau tiang utama ekonomi. Lahirnya gerakan antilintah darat sejak zaman Belanda juga dimaksudkan untuk melindungi sektor ekonomi kecil dari pengisapan pemberi utang. Pemogokan-pemogokan yang digerakkan oleh kaum buruh pada zaman Belanda, seperti pemogokan para pekerja pabrik gula yang dipelopori Soerjopranoto, dimaksudkan untuk meningkatkan ekonomi.
Demikian juga, Pada zaman Ore Baru, berdirinya organisasi pengusaha, seperti KADIN (Kamar Dagang dan Industri), HIPPI (Himpunan Pengusaha Pribumi Indonesia), HIPLI (Himpunan Pengusaha Lemah Indonesia), IWAPI (Ikatan Wnita Pengusaha Indonesia), REI (Real Estate Indonesia), dan ASI (Asosiasi Semen Indonesia), juga dimaksudkan untuk meningkatkan ekonomi anggota dan bargaining power-nya. Pendirian HKTI (Himpunan Kerukunan Tani Indonesia), SPSI (Serikat Pekerja Seluruh Indonesia) dan sejenisnya mempunyai tujuan yang sama. Pada ekonomi internasional, ada OPEC (Organization of Petroleum Exporting Counties) dan ada kerjasama regional APEC (Asia Pacific Ekonomic Coopration).
Agama Sebagai Kekuatan Sejarah
Gerakan-gerakan terekat di Aceh pada awal abad ke-17, di bawah Hamzah Fansuri dan Syamsuddin Sumatrani serta pemberantasannya di bawah Nuruddin Ar-Raniri adalah smata-ata karena alasan agama, karena dua orang yang pertama dianggap sesat. Perjalanan Burhanuddin dari Ulakan di Sumatera Barat ntuk belajar agama pada Abdurrauf di Aceh pada abad ke-17 dan penyebaran agama Islam di Sumatera Barat tidak lepas dari motif keagamaan. Demikian juga mata rantai gerakan tarekat di Indonesia sampai sekarang. Sebelum menjadi gerakan sosial, kultural, dan politik, penyebaran Islam di Jawa pada mulanya adalah gerakan keagamaan.
Pada zaman pergerakan nasional, gerakan yang khusus di antaranya Muhammadiyah (1912) dan Nahdlatul Ulama (1926). Muhamadiyah adalah gerakan “amar makhruf nahi munkar” yang berusaha kembali pada sumbernya, yaitu Al-quran dan Hadis. Karena itu ia harus menghadapi budaya Jawa yang dianggap penuh kurafat (tidak masuk akal) dan ajaran Islam yang ada yang dianggap penuh bid’ah (ajaran yang timbul kemudian). Sebagai reaksi terhadap Muhammadiyah yang dianggap antimahzab dan Sarekat Islam yang penuh politik, lahirlah Nahdalatul Ulama yang menegaskan kembali pentingnya mahzab yang jumlahnya empat (Syafi’i, Hambali, Maliki, Hanafi) dan sebuah gerakan agama yang nonpolitik. Akhir-akhir ini ada gerakan antiperadaban modern yang disebut “fundamentalisme”. Rupa-rupanya gerakan “fundamntalisme” itu bukan khas milik Islam.
TEKNOLOGI SEBAGAI KEKUATAN SEJARAH
Sungai dan laut merupakan penghubung untuk masyarakat bertransaksi dan melakukan hubungan politik. Bengawan Solo tidak lagi punya monopoli pengangkutan, seperti diceritakan dalam penyerbuan Mataram ke Surabaya, setelah rel-rel kereta api menghubungkan Yogyakarta dengan Surabaya. Kota-kota sepanjang sungai digantikan oleh kota-kota sepanjang jalan kereta api. Demikian juga laut, perananya dapat digantikan oleh kereta api. Di Madura, setelah jalan kereta api, diletakkan pada akhir abad ke-19 atau awal abad ke-20, orang masih bermigrasi sesuai dengan jalan laut yang terpendek. Setelah ada kereta api, populasi kuda menurun, dengan kereta kuda orang hanya bepergian sejauh 10 kilometer. Dengan datangnya teknologi baru dengan mesin-mesin, pengusaha gula pasir tradisional yang mengandalkan binatang dan gula merah dari kelapa mendapat saingan berat. Demikian juga dalam produksi tekstil. Mula-mula tenun tangan digantikan ATBM (Alat Tenun Bukan Mesin), kemudian juga ATBM dikalahkan mekanisasi.
Produksi makanan dan minuman terjadi penggusuran makanan dari minuman tradisional yang dikerjakan dengan tangan oleh makanan dan minuman modern. Ini terjadi juga dalam kosmetika dan jamu, serta dalam penangkapan, pemeliharaan, perdagangan dan pengalengan ikan. Dengan diam-diam teknologi telah mengubah kehidupan, tetapi masih luput dar perhatian sejarawan. Sebabnya ialah karena sejarawan masih sibuk mengurus sejarah yang besar-besar , yang atas-atas, serta yang di permukaan, dan melupakan yang kecil-kecil, yang dibawah, dan kekuatan-kekuatan yang tak tampak seolah-olah hal itu bukan sejarah.
BUDAYA SEBAGAI KEKUATAN SEJARAH
Prodisasi sejarah Eropa sampai abad ke-19 banyak dipengaruhi oleh pertimbangan budaya. Ketika kita ikut membagi Eropa menjadi beberapa periode, seperti zaman Klasik, Zaman Pertengahan, Renaisans, Reformasi, Rasionalisme Perancis dan Empirisme Inggris, Zaman Pencerahan, dan Romantisme, pengaruh sejarah pemikiran dan ilmu pengetahuan Eropa kuat. Pengaruhnya tidak hanya berhenti dalam cara berpikir, tetapi juga pada cara merasa dan cara bekerja. Kesenian, arsitektur, seni lukis, sastra, musik, sandiwara, sirkus, dan film, pengaruh barat itu sangat terasa. Bahkan dalam olahraga, desain, fashion, dan masak-masakan pengaruh itu sangat terasa. Bangunan belanda dapat kita temuidi kota-kota lama,sementara gaya spanyol dapat kita temui dalam bangunan baru. Naturalisme yang menghormati antomi, perspektif, dan cahaya mempunyai pengaruh sejak Raden Saleh, Sudjojo, Dullah, dan sampai sekarang masih di ajarkan. Dalam sastra, bentuk baru seperti novel, cerpen, dan puisi bebas berasal dari Eropa. Chairil anwar banyak dipengaruhi oleh eksistensilisme. Musik klasik dan kontemporer Barat begitu kuat pengaruhnya, termasuk tingkah laku pemusik dan penontonnya. Sandiwara model Eropa suka berkeliling Indonesia, rombongan komidi stambul yang menjadi tiruannya, juga mengelilingi kota-kota. Demikian pula sirkus. Film mulai dikenal sejak awal abad ke-20, dan pada tahun 1930-an pemain-pemain Melayu dan Cina sudah mulai dikenal.
Olahraga juga, seperti sepak bola, desain interior rumah, seperti meja dan kursi, celana, makanan kaleng, mulai dikenal setidaknya padaa awal abad ke-20. Pengaruh barat itu makin terasa pada era globalisasi. Di Indonesia,sekarang sedang berlangsung persaingan kebudayaan: nasional dan internasional, modern dan traadisional, nasional dan lokal, pusat dan daerah, tengah dan pinggiraan, kota dan desa, santri dan ambangan; semuanya dengan perangkat masing-masing. Keroncong sedang bersaing dengan country, dangdut dengan rock; gatot kaca dengan ksatria baja hitam; duduk di kursi dengan lesehan; koran nasional dengan koran pedalaman; puisi dengan tambang; dan “salawat” dengan “selamat ulang tahun”. Kekuatan sejarah itu berjalan seperti api dalam sekam. Kita mengira politik itu meenentukan, sehingga kita membayar mahal untuk pesta demokrasi, untuk memegang kekuasaan dan kemenangan. Kita tidak tahu bahwa politik itu hanya sepersekian dari kekuatan sejarah. Kadang-kadang kekuatan sejarah itu berjalan sendiri, kadang-kadang terjadi secara bersamaan. Sebuah revolusi terjadi bila kekuataan-kekuatan sejaraah bergabung.
Ideologi Sebagai Kekuatan Sejarah
Pada awal abad ke-20 pemikiran tentang kemajuan menjadi penggerak utama untuk meninggalkan tradisional. Untuk daerah berbahasa Batak, pemikiran ini disebut hamajoan, untuk orang Jawa kemajengan. Atas nama kemajuan, orang-orang Cina meninggalkan kucirnya, menghentikan upacara sembahyang rebutan, dan mendirikian organisasi. Orang-orang Mangkunegaran Surakarta, duduk di kursi, dan para prajurit Kasunanan Surakarta mencukur kepalanya yang semula dibiarkan panjang dan digelung. Juga atas nama kemajuan, penerbitan di Jawa telah menggantikan ilmu ngalamat, misalnya arti pelupuk mata sebelah kiri bergerak-gerak, dengan ilmu alam yang disebutnya dengan ilmu kodrat. Misalnya, gerhana bulan tidak lagi terjadi akibat raksasa yang berusaha menelannya, tetapi karena kedudukan bulan, bumi dan matahari. Gerakan Muhammadiyah mencoba memadukan antara kemajuan dan agama. Cita-cita kemajuan itu terasa sampai tahun 1930-an ketika Sutan Takdir Alisyahbana menulis novel.
Gerakan antiadat, misalnya poligami, tayub, tekanan atas wanita, menjadi populer di Indonesia. Gerakan itu tercatat dalam pers pada awal abad ke-20 dan dalam penerbit-penerbitan. Novel Marah Rusli, Siti Nurbaya, hanyalah salah satu ekspresinya dalam sastra. Gerakan nasionalisme merupakan ideologi yang melahirkan banyak lembaga politik. Sebagai gerakan yang dipengaruhi oleh romantisme, nasionalisme juga mempunyai pengaruh dalam kesusatraan. Poedjangga Baru yang mendefinisikan seni sebagai gerakan sukma, terbagi ke dalam dua kubu. Kubu pertama melihat Indonesia lebih sebagai Timur, dan kubu kedua yang lebih melihat Barat sebagi model. Dalam bidang pendidikan dan kebudayaan terdapat Taman siswa yang mencoba menjawab pertanyaan kebudayaan dunia, kebudayaan daerah, dan kebudayaan nasional. Soekarno mencoba menyatukan Islam, Marxisme, dan nasionalisme, ideologi yang dibawanya sampai tahun 1966 ketika ia menyerahkan kekuasaanya pada Orde Baru. Pancasila yang merupakan common denominator bagi seluruh bangsa Indonesia yang telah menjadi persetujuan bersama, juga merupakan kekuatan sejarah. Telah dibuktikan sepanjang sejarah Indonesia bahwa ia mrupakan ideologi yang efektif.
Diambil dari buku: Kuntowijoyo. 2013. PENGANTAR ILMU SEJARAH. Yogyakarta: Tiara Wicana
Selasa, 16 Oktober 2018
Bahan Materi Kuliah Perspektif Global PGS FKIP UNTAD Kelas B Semester 5
Bahan materi MK Perspektif Global di PGSD:
PENGERTIAN DAN GLOBAL PARADOKS
Oleh:
Haliadi-Sadi
Menurut Jan L. Tucker dalam Sriartha (2004:2) perspektif global adalah pendidikan yang diarahkan pada pengembangan wawasan global yang mempersiapkan anak didik generasi muda menjadi manusiawi, rasional, sebagai warga negara yang mampu berpartisipasi dalam kehidupan dunia yang semakin menunjukkan saling ketergantungan.Sementara itu Barbara Benham Tye dan Kenneth A. Tye (1992) pendidikan global merupakan :
Global education involves (1) the study of problems and issues which cut across national boundaries, and the interconnectedness of cultural, environmental, economic, political, and technological systems, and (2) the cultivation of cross-cultural understanding, which includes development of the skill of “perspective-taking”-that is, being able to see life someone else’s point of view. Global perspective are important at every grade level, in every curricular subject area, and for all children and adults.Definisi pendidikan global sebagaimana diketengahkan di atas, menekankan bahwa pendidikan global mencakup kajian tentang masalah-masalah dan isu-isu yang melintasi batas-batas nasional, saling keterhubungan budaya, lingkungan, ekonomi, politik, dan system teknologi. Pemahaman mengenai lintas-budaya yang di dalamnya termasuk pengembangan keterampilan “menentukan perspektif atau pandangan” sebagai sebuah sudut pandang seseorang. Perspektif global itu sangat penting untuk semua tingkatan usia, anak-anak maupun orang dewasa.
Terjadinya benturan antara peradaban disebabkan oleh: pertama, perbedaan peradaban yang sangat nyata; kedua, dunia yang semakin mengecil; ketiga, proses modernisasi ekonomi; keempat, berkembangnya kesadaran; kelima, perbedaan kulturan barat dan non barat, dan; keenam, regionalisme ekonomi yang semakin meningkat. Sementara itu, faktor-faktor terjadinya transformasi politik disebabkan oleh: pertama, semakin lemahnya legitimasi politik rezim bukan demokrasi, terutama oleh krisis ekonomi, kekalahan perang, dan krisis minyak; kedua, pertumbuhan ekonomi yang meningkat, sehingga kesejahteraan meningkat dan pendidikan berkembang sehingga kelas menengah bertambah; ketiga, perubahan doktrin gereja, pendeta aktif dalam gerakan demokratik; keempat, organisasi besar dunia (external actor) berpihak kepada demokrasi; dan kelima, efek dari perkembangan teknologi informasi yang tinggi, menyediakan model baru untuk merubah rezim.
Dua pernyataan mengenai pengertian dan gejala global tersebut akan memberikan inspirasi bagi kita untuk membuat komentar beserta contoh dari salah satu benturan dan trasformasi Politik di dunia. Silahkan komentar di bawah ini!, komentar anda mahasiswaku adalah tugas resume untuk menentukan kelulusan anda di mata kuliah ini. Terima kasih, Wassalam. Haliadi, SS., M.Hum., Ph.D.
Langganan:
Postingan (Atom)
-
Bahan materi MK Perspektif Global di PGSD: PENGERTIAN DAN GLOBAL PARADOKS Oleh: Haliadi-Sadi Menurut Jan L. Tucker dalam Sria...
-
POLA PEMIKIRAN MASYARAKAT BERAGAM BAHARI DI SULAWESI TENGAH: Sebuah Catatan Awal [1] Oleh Haliadi-Sadi, Ph.D (Dosen Sejarah da...

